Kalimantan, 27 Februrari 2008
Akhirnya aku sampai juga menginjakan kaki di bumi yang sering disebut sebagai paru-paru kirinya dunia (selain hutan Amazon). Wah, ternyata begini to rasanya, menghirup udara masih fresh, masih segar; udaranya Kalimantan… emmm.
Setelah turun dari pesawat, ingin rasanya bersujud syukur setelah sebelumnya hampir tak kuasa meninggalkan orang-orang tercinta di tanah kelahiran; Jawa Dwipa. Tapi melihat tulisan “Selamat Datang di Bumi Tambun Bungai” seperti ingin cepat-cepat berkemas menuju tempat tujuan; Kantor Balai POM Palangkaraya. Ehm… seperti apa yang kondisinya.. orang-orangnya… mudah-mudahan baik-baik juga. Ada kekhawatiran jika masyarkat di sini mudah marah, mudah tersinggung, ataupun mudah terpancing oleh provokasi sehingga gampang sekali terjadi huru-hara atau pun kerusuhan seperti yang pernah terjadi pada beberapa tahun yang lalu. Semoga tidak demikian.
Sampai di ruang tunggu penumpang atau halaman depan Bandara Cilik Riwut, sempat beberapa saat menyusup rasa khawatir tidak ada yang menjemput. Tapi setelah menghubungi salah seorang yang pernah diberi nomor kontaknya sebagai seorang yang dapat dipercaya dan dapat diminati bantuannya, segera rasa takut dan khawatiran itu hilang. Dalam beberapa menit, ternyata jemputan itu datang. Alhamdulillah, beliau bernama mas Jajat dari Bandung yang ternyata telah bekerja di Balai POM Palangkaraya selama hampir 4 tahun.
Dalam perjalanan menujur kantor, saya pandangi jalan raya yang begitu lengang, sementara di kanan-kiri jalan sedang bergiat beberapa pekerja sibuk dengan pembangunan gedung-gedung (sekretariat salah satu partai merah) yang begitu megah untuk ukuran gedung sekeretariat, serta beberapa orang lainnya yang bergiat pula membangun jaringan drainase di pinggir-pinggir jalan. Memang pantas kalau disebut sebagai ‘kota yang masih membangun’. Nuansa dayak mulai terlihat dari beberapa ornament penunjuk jalan. Selain itu, sesekali juga berlalu-lalang dua orang yang berboncengan menggunakan busana adat Hindhu Kaharingan. Mungkin mereka sedang ada acara, entah itu peribadatan atau malah memang biasa digunakan untuk keseharian? Saya kira tidak mungkin.
Tidak sampai setengah jam, mobil dinas Kijang warna merah tua telah sampai di pintu gerbang kantor. Tak henti-hentinya dalam hati berdoa, membaca ayat-ayat Kursy, semoga menjadi berkah dan barokah kantor ini nantinya bagi saya pribadi maupun keluarga dan orang-orang yang saya cintai (Bapak, Ibu, dan semua saudara dekat-ku).
Setelah menghadap dan melapor atas kedatangan saya sebagai CPNS BPOM 2007, maka oleh KaSubag TU (Pak Lasimin) langsung ditugaskan untuk menghadap kepala seksi Lab Pangan dan Bahan Berbahaya (Ibu Dahlia). Ehm, hampir seharian saya diajak cerita tentang kantor, tentang visi pegawai negeri, tentang tantangan kerja, tentang sebagainya.
Dari pembicaraan itu, sedikit termotivasi dan tertantang untuk membuktikan, bahwa saya juga bisa memberikan sesuatu yang berarti bagi negeri ini.
Kamis, 28 Februari 2008
Hari pertama tinggal di Kalimantan, sepertinya tidak terlalu kaget dengan suasana kehidupan masyarakatnya. Ternyata banyak juga pendatang yang berasal dari Jawa (baik Jawa Tengah, Jawa Timur, maupun Jawa Barat) dan Banjar (masin) Kalsel. Selain juga dari beberapa daerah lain (Sumatra, Batak, Minang, dan Sulawesi).Jadinya seperti tidak tinggal di Kalimantan saja. Sama lah dengan kota-kota besar lainnya di Jawa. Cuma barangkali bedanya ialah di Palangka Raya ini tidak banyak pilihan tempat-tempat untuk hiburan (Mall, Café, Bioskop, Stasiun ..lho??)maupun sarana pendidikan yang rekreatif (perpustakaan umum, taman belajar/pintar, took-toko buku/shopping center, dsb). Tapi disini tak kalah juga dengan Malioboro-nya Jogja, karena di Palangka Raya ini tergolong kota yang teratur, sangat rapi perencanaan pembangunannya, sehingga di satu sudut pinggir sungai Kahayan terdapat satu kawasan bisnis yang sering disebut dengan Pasar Blauran.
Pasar Blauran sangat ramai saat sore tiba. Berbagai perlengkapan kebutuhan rumah tangga sampai fashion tersedia dengan harga miring (bila pandai menawar tentunya). Selain itu di Jalan Batam tepatnya terdapat beberapa kios yang menjual benda-benda antik atau kerajinan khas Dayak/Kalimantan. Ada lampit, batu berlian, kain batik bintik, kaos oblong, dan beberapa jenis makanan ringan seperti kerupuk amplang, dll. Pokoknya kalau mau menggali lebih jauh keunikan kota Palangkaraya ini, ada banyak lagi keindahan ataupun daya tarik setiap titik di kota yang dikenal sebagai Kota Cantik ini (Terencana, Tertib, Indah, dan Komunikatif).




