Arsip untuk Agustus, 2008

SANG MUROBBI

Posted in Sastra dengan kaitan (tags) , , , , on Agustus 15, 2008 by food4healthy

Prolog:

Selayaknya bagi jiwa-jiwa yang mengazzamkan dirinya di jalan ini
Menjadikan dakwah sebagai laku utama
Dialah visi, dialah misi, dialah obsesi
Dialah yang menggelayuti di setiap desah nafas
Dialah yang akan mengantarkan jiwa-jiwa ini kepada ridho dan maghfiroh Tuhannya kelak

Ribuan langkah kau tapaki
Pelosok negri kau sambangi
Tanpa kenal lelah jemu
Sampaikan firman Tuhanmu

Terik matahari tak surutkan langkahmu
Deru hujan badai tak lunturkan azzammu
Ragakan terluka tak jerikan nyalimu
Fatamorgana dunia tak silaukan pandangmu

Semua makhluk bertasbih panjatkan ampun bagimu
Semua makhluk berdoa limpahkan rahmat atasmu

Terik matahari tak surutkan langkahmu
Deru hujan badai tak lunturkan azzammu
Ragakan terluka tak jerikan nyalimu
Fatamorgana dunia tak silaukan pandangmu

Duhai pewaris nabi duka fana tak berarti
Surga kekal abadi balasan ikhlas di hati

Cerah hati kami, kau semai nilai Rabb suci
Tegak panji Ilahi bangkit generasi Robbani

Ditulis dan dinyanyikan oleh tim nasyid Izzatul Islam

Akhir Hayat Para Pengkhianat

Posted in Ad Da'wah dengan kaitan (tags) , , , on Agustus 15, 2008 by food4healthy

Setelah peristiwa pengusiran Yahudi Bani Qainuqa’ dan pembunuhan Ka’ab bin Asyraf pasca perang Badar, Yahudi Bani Nadhir ketakutan. Mereka mengambil sikap diam. Namun begitu melihat kekalahan umat Islam pada perang Uhud, mereka mulai berani menyatakan permusuhan dan pengkhianatan…

Setelah peristiwa pengusiran Yahudi Bani Qainuqa’ dan pembunuhan Ka’ab bin Asyraf pasca perang Badar, Yahudi Bani Nadhir ketakutan. Mereka mengambil sikap diam. Namun begitu melihat kekalahan umat Islam pada perang Uhud, mereka mulai berani menyatakan permusuhan dan pengkhianatan. Di antara bentuk pengkhianatan mereka adalah menjalin hubungan dengan orang-orang munafik dan kaum musyrikin Makkah secara sembunyi-sembunyi.

Ini bukan bentuk pengkhianatan kecil. Di antara poin penting Piagam adalah dalam rangka menyelamatkan Madinah, siapa pun termasuk Yahudi, tak boleh menjalin kerja sama dengan kafir Quraisy.

Meski sudah mengetahui pengkhianatan itu, Rasulullah saw berusaha menahan diri. Namun Yahudi Bani Nadhir semakin berani. Khususnya setelah peristiwa Raji’ dan Bi’ru Ma’unah yang menewaskan puluhan kaum Muslimin. Puncak pengkhianatan mereka sampai pada rencana pembunuhan atas diri Rasulullah saw. Niat jahat itu benar-benar mereka rencanakan secara matang.

Suatu hari Rasulullah saw bersama beberapa orang sahabatnya mendatangi mereka untuk meminta bantuan membayar diyat dua orang Bani Kilab yang telah dibunuh oleh Amr bin Umayyah adh-Dhamri secara tak sengaja.

Seperti dituturkan Ibnu Sa’ad dalam Thabaqat-nya, Rasulullah saw dan beberapa sahabatnya dipersilakan menunggu di suatu tempat. “Kami akan mematuhinya, wahai Abul Qasim. Duduklah di sini sampai kami dapat memenuhi janji,” ujar salah seorang dari mereka.

Rasulullah saw bersama Abu Bakar, Umar, Ali dan beberapa orang sahabat lainnya duduk menunggu. Sementara itu, orang-orang Yahudi mempersiapkan sebuah batu besar untuk digelindingkan ke arah Rasulullah saw.

Allah tidak akan membiarkan Nabi-Nya celaka. Jibril pun turun dari sisi Rabbul Alamin mengabarkan kepada Rasulullah saw tentang rencana jahat orang-orang Yahudi Bani Nadhir tersebut.

Rasulullah saw segera meninggalkan tempat duduknya tanpa diketahui oleh siapa pun. Para sahabat segera menyusul kembali ke Madinah. Beliau kemudian memberi tahu rencana yang akan dilakukan oleh orang-orang Yahudi.

Tidak lama kemudian, Rasulullah saw mengutus Muhammad bin Maslamah kepada Bani Nadhir untuk mengatakan kepada mereka, “Keluarlah dari Madinah. Janganlah hidup berdekatan denganku. Aku beri waktu sepuluh hari. Jika setelah itu aku melihat di antara kalian ada yang berada di Madinah, akan aku penggal batang lehernya!”

Tidak ada pilihan lain bagi orang-orang Yahudi bani Nadhir kecuali harus keluar dari Madinah. Mereka pun bersiap-siap untuk berangkat. Namun, gembong munafik, Abdullah bin Ubay, mengirimkan utusan seraya berkata, “Kalian hendaklah tetap tinggal di sini dengan senang hati. Janganlah keluar dari tempat tinggal kalian. Aku akan membantu kalian dengan dua ribu prajurit yang siap bertempur dalam benteng kalian. Mereka siap mati membela kalian. Jika kalian benar-benar diusir kami pasti keluar bersama kalian dan kami selamanya tidak akan taat (tunduk) kepada siapa pun juga yang hendak (menyusahkan kalian); dan jika kalian diperangi, kami pasti akan membantu kalian, dan kalian juga akan dibantu oleh Bani Quraizhah dan sekutu-sekutu mereka dari Ghathfan.”

Atas dorongan orang-orang munafik itu, orang-orang Yahudi mulai percaya lagi terhadap kekuatan mereka dan mengambill keputusan untuk melakukan perlawanan. Pemimpin mereka, Huyay bin Akhthab sangat antusias. Ia mengirimkan utusan kepada Rasulullah saw untuk menyampaikan keputusan, “Kami tak akan keluar dari tempat tinggal kami. Silakan bertindak sesuka Anda!”

Kondisi demikian sulit bagi kaum Muslimin. Berhadapan dengan musuh dalam kondisi yang sulit, sangat tidak menguntungkan. Permusuhan orang-orang Arab terhadap mereka begitu besar, dan mereka banyak melakukan pembunuhan terhadap utusan-utusan kaum Muslimin, seperti pada peristiwa Bi’ru Ma’unah dan Raji’. Di samping itu orang-orang Yahudi Bani Nadhir masih memiliki kekuatan yang cukup, sehingga kemungkinan untuk menyerah sangat kecil. Jika terjadi peperangan dengan mereka, pasti penuh dengan hambatan.

Namun di sisi lain, setelah terjadinya peristiwa Bi’ru Ma’unah dan peristiwa sebelumnya, membuat kaum Muslimin semakin peka terhadap berbagai tindak kejahatan, pembunuhan dan pengkhianatan yang dilakukan oleh kaum musyrikin, baik secara berkelompok maupun perorangan. Hal ini semakin memompa semangat mereka untuk melancarkan tindakan pembalasan terhadap para pelakunya. Kaum Muslimin bertekad memerangi Bani Nadhir setelah mereka berniat membunuh Rasulullah saw, apa pun risikonya.

Begitu mendengar jawaban yang disampaikan oleh Huyay bin Akhtab, Rasulullah saw bertakbir. Para sahabat pun ikut bertakbir. Rasulullah saw pun segera mempersiapkan pasukan. Ketika itu, urusan Madinah diserahkan kepada Abdullah bin Ummi Maktum. Bendera dibawa oleh Ali bin Abu Thalib. Setelah tiba di tempat Bani Nadhir, beliau memerintahkan untuk mengepung mereka.

Bani Nadhir bersembunyi dalam benteng-benteng mereka sambil melempari kaum Muslimin dengan anak panah dan batu. Dalam hal ini, keberadaan kebun kurma sangat membantu orang-orang Yahudi. Rasulullah saw memerintahkan agar membabat habis dan membakar kebun kurma tersebut. Dalam hal ini Allah menurunkan ayat, “Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir ) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas akarnya, maka (semua itu) adalah dengan izin Allah,” (QS al-Hasyr: 5).

Sementara itu orang Yahudi berperang sendirian. Mereka ditinggalkan Bani Quraizhah, dan dikhianati Abdullah bin Ubay dan sekutu-sekutunya dari Ghathfan. Tak seorang pun yang memberikan bantuan kepada mereka. Karena itu, Allah SWT mengumpamakan mereka seperti syaithan.

Allah Ta’ala berfirman, “Bujukan orang-orang munafik itu seperti (bujukan) syaithan ketika dia berkata kepada manusia,’Kafirlah kamu, Lalu, tatkala manusia itu telah kafir ia berkata,’Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu’,” (QS al-Hasyr: 16).

Pengepungan berlangsung selama enam hari. Karena tak kunjung mendapat bantuan dari Abdullah bin Ubay dan sekutunya, akhirnya Bani Nadhir menyerah dan menyatakan diri keluar dari Madinah. Rasulullah saw memperbolehkan mereka keluar membawa semua miliknya yang dapat diangkut, kecuali senjata.

Bani Nadhir pun pergi membawa harta mereka kecuali senjata. Mereka menghancurkan rumah-rumah agar dapat membawa pintu-pintu dan jendela-jendela. Bahkan sebagian mereka ada yang membawa tiang-tiang penopang. Mereka juga membawa istri dan anak. Semuanya diangkut dengan enam ratus unta.

Mayoritas Bani Nadhir dan juga pimpinan mereka seperti Huyay bin Akhthab dan Salam bin Abul Haqiq berangkat menuju Khaibar; dan sebagian lagi berangkat ke Syam. Sementara yang masuk Islam hanya dua orang, yaitu Yamin bin Amru dan Abu Sa’d bin Wahb. Keduanya mendapatkan hartanya.

Rasulullah saw menyita senjata, tanah, rumah, dan harta benda mereka. Senjata yang didapatkan sebanyak lima puluh perisai, lima puluh topi baja,dan tiga ratus empat puluh pedang.

Semua harta Bani Nadhir menjadi milik kaum Muslimin. Rasulullah saw mengambil seperlimanya sesuai dengan ketentuan pembagian harta rampasan perang. Sementara sisa senjata dan kuda untuk perlengkapan fisabilillah. Kaum Muslimin dari Anshar tidak keberatan dengan kebijakan Rasulullah saw. Karena hal itu berarti juga meringankan beban mereka. Selama ini kaum Muhajirin menetap di tempat tinggal kaum Anshar.

Perang Bani Nadhir terjadi pada bulan Rabi’ul Awal tahun 4 H atau Agustus tahun 625 M. Berkaitan dengan perang ini, Allah menurunkan surat al-Hasyr secara keseluruhan. Dalam surat tersebut, Allah memaparkan pengusiran orang-orang Yahudi, mengungkap kedok orang-orang munafik, menjelaskan hukum yang bertalian dengan fa’i (harta rampasan perang yang didapat tidak melalui perang fisik), memuji kaum Mujahirin dan Anshar, menjelaskan tentang bolehnya menebang dan membakar pohon di daerah musuh demi kemaslahatan perang, dan bahwasanya hal itu tidak termasuk membuat kerusakan di muka bumi, mewasiatkan kepada kaum mukmin untuk tetap komitmen terhadap ketakwaan dan melakukan persiapan untuk akhirat. Kemudian ditutup dengan memuji diri-Nya dan menjelaskan nama-nama serta sifat-sifat-Nya. Karenanya, tentang surat al-Hasyr ini, Ibnu Abbas berkata, ”Katakanlah, surat ini adalah surat an-Nadhir,” (Ibnu Hisyam, II/190-192, Zaadul Maad II, 71).

Dengan demikian, berakhirlah riwayat Bani Nadhir di bumi Madinah.

Diambil dari : Majalah Sabili edisi 04/XII

Cinta dalam Dakwah atau Cinta dengan Dakwah?

Posted in Ad Da'wah dengan kaitan (tags) , , , on Agustus 15, 2008 by food4healthy

Ehm, sepertinya dua hal yang tidak perlu dipertentangkan. Kenapa? Karena yang pertama merupakan fitrah manusia, sedangkan yang kedua merupakan satu keharusan ketika kita mengazamkan diri terlibat dalam jama’ah dakwah. Jadi tidak perlu dipertentangkan bukan? Kalau memang kedua hal diatas telah jelas adanya, seperti air jernih yang mampu memantulkan sinar bintang-gemintang, maka tidak perlu lagi pembahasan disini. Namun pada kenyataanya, dikalangan para aktivis dakwah sering ditemui adanya friksi-friksi hati, terutama antara ikhwan dan akhwat. Bagaimana tidak, dengan tingginya intensitas pertemuan, baik melalui rapat, kegiatan seminar, aksi, sampai pelatihan-pelatihan dasar, maka adanya virus bernama merah jambu itu sangat mungkin untuk berkembang. Akibatnya, tentu kualitas pribadi-pribadi aktivis menjadi lemah atau dalam bahasa kerennya; futur. Nah, kalau sudah sampai begini mau dibawa kemana gerbong dakwah ini, saudaraku?

Cinta memang fitrah manusia. Tapi tidak bisa dengan seenaknya ia diumbar begitu saja, tanpa adanya batasan dan aturan yang memagarinya. Islam mengajarkan bahwa kecintaan tertinggi itu ditujukan hanya pada Allah swt, kemudian disusul dengan kecintaan terhadap Rasulullah saw, para sahabat, generasi para salafus sholeh dan ummat muslim secara keseluruhan termasuk kedua orang tua kita sendiri dengan ditambah keluarga dekat dan karib kerabat, dimana kedudukannya juga tak kalah pentingnya dalam Islam.

Tingkat kecintaan antara muslim dan muslimah merupakan berada pada tingkat yang kesekian, tidak menjadi hal yang utama dan pertama. Nah, jika hal ini telah dijadikan prinsip ataupun pegangan yang kuat, maka sesering apapun interaksi antara ikhwan-akhwat tidak menjadi persoalan. Apalagi jika didukung oleh teman-teman dekat yang selalu memberikan pengawasan ataupun teguran. Dalam hal ini, nilai kejujuran juga menjadi kunci penting terhadap keistiqomahan seseorang dalam menjalankan amanah-amanah dakwah yang dibebankan kepadanya.

Sudah menjadi sunnatullah bahwa dalam menjalankan amanah dakwah, semakin kuat kondisi kejiwaan (ruhaniah) seorang kader, maka semakin berkualitas (produktif) pula amanah-amanah dakwah itu dijalankan. Untuk itu, proses tazkiyatun nasf bagi seorang kader dakwah merupakan satu kewajiban rutin harian yang harus senatiasa dijalankan. Baik melalui amalan-amalan wajib maupun amalan-amalan sunnah (nafilah). Selain itu, keteguhan seorang kader untuk menjaga asholah dakwah yang telah digariskan oleh Rasulullah saw dalam menjalankan misinya, juga sangat menentukan keberhasilan dakwah. Untuk itu, keterlibatan seorang kader didalam jama’ah dakwah jangan sampai setengah-setengah, akan tetapi harus all out atau bersungguh-sungguh melibatkan diri (berintima’) kepada jama’ah.

Seringkali kita temui di lapangan, tidak sedikit kader dakwah yang merasakan dirinya terasingkan atau tersisihkan. Apabila ditelurus lebih jauh, ternyata munculnya persepsi itu lebih banyak disebabkan oleh subjektifitas penilaian terhadap dirinya sendiri. Artinya, bagi rekan-rekan seperjuangannya belum tentu menilai sama dengan dirinya. Bahkan mungkin bisa jadi sebaliknya. Namun yang pasti, mundurnya seseorang dari barisan dakwah, bisa disebabkan oleh dua hal:

1. Sifat Malas

Hal ini sering dialami oleh sebagian besar kita, biasanya disebabkan oleh rutinitas dakwah yang dinilai sudah sangat menjemukan. Ibarat air, maka ia butuh adanya tempat untuk bergerak, berekspresi hingga menemukan hilir yang diinginkannya. Selain itu, bisa juga disebabkan oleh tidak terbedayakannya potensi seorang kader, akibat kurangnya komunikasi antara jundi dengan qiyadah, sehingga tidak sampai amanah apa yang seharusnya diberikan dengan kemampuan dan kapasitas yang dimiliki oleh kader tersebut. Nah, jika hal ini sering dialami oleh kita, barangkali bisa berkaca kepada kisah Ka’ab bin Malik yang batal turut serta dalam perang Tabuk, dimana segala perlengkapan saat itu sebenarnya telaj disiapkannya, namun karena muncul penyakit malas ini, niat bergabung itu ia kesampingkan. Akibatnya, ia harus menanggung hukuman terasingkan, hingga Allah mengabadikan kisahnya dalam suat At Taubah ayat 41-49.

2. Sifat Munafik

Sifat munafik adalah sifat yang dimiliki oleh orang-orang yang suka menampakan keimanan tetapi dibelakang suka menyembunyikan kekafiran. Oleh Ibnu Kastir diartikan juga dengan sifat nifak yaitu orang yang sukan menampak-nampakan kebaikan perbuatannya, dan menyembunyikan sifat-sifat keburukannya. Allah menjelaskan secara panjang lebar sifat munafik ini dalam Al Quran, seperti pada surah Al-Baqarah, surat al Munafiqun, dan dalam surah An Nuur serta disurat-surat lainnya. Yang pasti, jika penyakit ini sudah mulai terdeteksi menggerogoti hati kita, lekas-lekas untuk diobati dengan mendekatkan diri kepada Allah swt serta orang-orang yang shaleh.

Ketika dua macam penyakit diatas telah dapat diatasi ataupun diantisipasi, maka usaha kita untuk lebih mencintai dakwah, dengan apapun amanah yang dibebankan kepada kita, menjadi lebih mudah. Untuk bisa mencintai dakwah, memang diperlukan kerja keras, pengorbanan, kesungguhan, dan komitmen yang kuat, sebagaimana para shahabat terdaulu melibatkan dirinya dalam jama’ah dakwah rasul. Itulah barangakali contoh konkret yang sederhana; bagaimana seseorang itu benar-benar bercinta dengan dakwah, bukan bercinta dalam dakwah. Wallahu a’lam bishawab.

Palangkaraya 15 Agustus 2008