Arsip untuk September, 2008

Menjadi Saksi Ahli

Posted in Pernik dengan kaitan (tags) , , , on September 23, 2008 by food4healthy

Wah, gak nyangka neh, baru masuk beberapa bulan di Balai POM Palangkaraya dah diminati sebagai “saksi ahli” dalam kasus penyelundupan gula rafinasi. Gimana coba perasaannya… Antara takut dengan tertantang. Antara was-was dan keyakinan. Tapi udah deh, dicoba saja.

Akhirnya, dengan diantar oleh Om Tamjid, Kepala Sie Pemeriksaan dan Penyidikan BPOM Palangkaraya, kami berdua menuju Kantor Polres Palangkaraya yang berada hanya berjarak kurang lebih 500 meter diseberang jalan. Menggunakan Kijang hitam 90-an, kami menuju Polres dengan membawa “kitab SNI” sebagai buku wajib pegangan kami sebagai tim Penguji (Analis Keamanan Pangan).

Sesampainya di dalam, kami langsung menemui KaNit … yang ternyata pernah mengenyam pendidikan di S1 Kimia IPB Bogor, tapi hanya satu semester. Dengan berbekal informasi sekilas itu, sedikit agak lega bahwa bahwa tidak sedikit juga polisi yang mengenyam pendidikan ‘egaliter’ sehingga mengurangi kesan otoriterianisme polisi. Wah kayak apa saja… Tapi memang begitu pemahaman masyarakat awam. Apalagi bagi mereka yang tidak pernah berurusan dengan polisi. Bagi penulis pribadi, urusan dengan polisi, sedikit banyak bisa membuat gambaran bahwa polisi itu masih banyak yang perlu diperbaiki. Jangan sampai sindiran film-film India menjadi kenyataan.

Oke deh, dengan langkah pasti mulailah penulis menjelaskan tentang persoalan gula rafinasi. Setelah dijelaskan sedikit banyak tentang gula impor ini, ternyata nampak terlihat jelas tanda tanya besar dari mereka. ”Ternyata oh ternyata begitu to..” Ya, jadi memang pada dasarnya secara medis tidak berbahaya apabila gula ini dikonsumsi langsung oleh masyarakat. Hanya saja kita sebagai warga yang taat hukum, wajib menerapkan hukum yang telah disepakati bahwa gula rafinasi impor tidak boleh di konsumsi secara langsung oleh masyarakat, namun hanya diperuntukan bagi kalangan indistri makanan dan minuman serta farmasi.

Akhirnya, tetap saja penulis diminta kesaksiannya untuk menguji kebenaran sampel yang didapat oleh pak polisi itu apakah benar2 gula rafinasi yang didapat dari impor ataukah bukan? Nah, inilah pertanyaan yang tidak bisa penulis jawab. “Bagaimana ya membuktikannya?” “Lha wong itu bahan dasarnya sama, proses pengolahannya sama, cuma istilahnya gula rafinasi itu berbahan baku impor sedangkan gula kristal putih itu yang biasa dikonsumsi sehari- hari adalah hasil perahan sukrosa dari tebu rakyat asli negeri ini. “Tinggal mau pilih yanga to?” Tapi untuk bahasa hukum tetap harus dijelaskan dan di proses secara hukum. Prinsip keadilan harus diterapkan disini. Bisa kah?

Lihat saja proses selanjutnya…

Menikmati Islam

Posted in Ad Da'wah dengan kaitan (tags) , , , , on September 20, 2008 by food4healthy

Cukup menarik apa yang menjadi pembicaraan dalam buka bersama kemarin sore. Kurang lebih temanya ialah “menikmati Islam”. Meski hanya disampaikan dalam waktu kurang lebih 10 menit, tetapi cukup mudah diingat tag line ini. Mengingat istilah yang selama ini saya dapat ialah ‘menikmati demokrasi’ nya Ust. Anis Matta atau mungkin menikmati …. lainnya. Jarang sekali orang ngomong soal bagaimana menikmati Islam.

Nah, Ust. Madjid yang menurut pribadi saya (juga rekan2 yang lain) mirip sekali dg Ust Tifaul (eh Ust Tifatul) menyampaikan bahwa untuk menikmati Islam perlu dua hal saja. Pertama paham atau mengerti bahwa Islam itu memang nikmat, banyak manfaatnya, gak bikin hati menjadi bete’. Seperti anak kecil saja yang tidak mengerti manfaat minum susu, maka ia akan terus memberontak untuk meminumnya. Padahal susu itu sangat bermanfaat bagi perkembangan tubuhnya. Coba kalau ia tahu, maka sehari bisa minum 5 gelas mungkin y… :d. Nah cara kedua untuk bisa menikmati Islam ialah ‘tidak sakit’. Sama halnya ketika kita akan menikmati satu makanan nan lezat, namun kondisi badan kita sedang tidak sehat, gigi sakit misalnya, maka tidak bisa kenikmatan itu terasakan. Begitupun dalam menikmati Islam. Kita akan bisa merasakan manisnya ajaran-ajaran Islam ketika hati, pikiran dan jiwa kita tidak sedang dalam keadaan ’sakit’. Maka dari itu upaya tazkiyatun nafs perlu terus menerus dilakukan, baik itu dengan ibadah-ibadah sunnah, sedekah, tilawah, shaum dan shalat sunnah, jika dilakukan secara konsisten, maka akan tersusun anti body dalam diri kita, sehingga menjadi tahan dengan serangan nafsu syahwat maupun syubhat.

Sampai disini, sudah ada gambaran untuk bisa menikmati Islam?

Pengalaman Pertama Mengajar…

Posted in Akademika, Pernik dengan kaitan (tags) , , , on September 20, 2008 by food4healthy

Akhirnya, diberi kesempatan juga olehNya melalui rekan kerja di kantor, untuk menularkan ilmu yang selama ini telah diperlajari di kampus kepada adek-adek mahasiswa DIII Farmasi UMP (Universitas Muhamadiyah Palangkaraya). Bukan tidak apa-apa, karena pada awalnya dulu tidak pernah terpikir dalam benak untuk menjadi seroang dosen, pengajar, apalagi guru. Mungkin pernah terpikir untuk menjadi dosen, tapi itu di universitas ternama dengan pertimbangan fasilitas yang dimiliki lebih lengkap tentunya. Namun mengingat kemampuan yang ada, keinginan itu segera dihapus dan diganti dengan planning-planning lainnya. Dan sekarang, ketika telah memasuki dunia kerja, baru bisa dipahami betapa memang sangat mulia bekerja atau berprofesi sebagai guru (pendidik). Apabila memang dengan niat yang ‘ikhlas’ yaitu untuk mencetak generasi baru yang cerdas, sehingga banyak memberikan manfaat bagi masyarakat, maka suatu aktifitas yang sangat mulia. Hari ini saya memulainya.

Dengan seorang rekan yang mirip-mirip sebagai seorang ‘profesor’ menjadikan persiapan yang saya lakukan tidak begitu repot. Cukup terbantukan dengan kemampuan ‘materi’ yang dimilikinya dipadukan dengan kemampuan yang ‘pas-pas-an’ yang saya miliki. Maka suasana kelas pun menjadi cukup hidup. Ya, mungkin karena ini masih di awal pertemuan, sehingga belum masuk ke materi intinya. Khawatir saya adalah kejadian sebagaimana dulu saya alami sebagai mahasiswa ialah merasakan kebosanan, ngantuk, ataupun tidak semangat dalam mengikuti kelas yang diajarkan. Salah satu penyebabnya ialah cara mengajar dosen yang sangat serius; tidak memberikan ‘ruang berpikir kreatif’ bagi siswa untuk mengeluarkan ide-ide dan pendapatnya.

Harapan saya, untuk pertemua-pertemuan selanjutnya juga tidak kalah serunya dengan pertemuan pertama ini. Target saya, terkait dengan infromasi yang selama ini saya terima, yaitu siswa-siswa yang malas belajar, dengan indikasi nilai yang rendah tidak terjadi dalam mata kuliah ini. Coba nanti dibuktikan saja.