Menikmati Islam
Cukup menarik apa yang menjadi pembicaraan dalam buka bersama kemarin sore. Kurang lebih temanya ialah “menikmati Islam”. Meski hanya disampaikan dalam waktu kurang lebih 10 menit, tetapi cukup mudah diingat tag line ini. Mengingat istilah yang selama ini saya dapat ialah ‘menikmati demokrasi’ nya Ust. Anis Matta atau mungkin menikmati …. lainnya. Jarang sekali orang ngomong soal bagaimana menikmati Islam.
Nah, Ust. Madjid yang menurut pribadi saya (juga rekan2 yang lain) mirip sekali dg Ust Tifaul (eh Ust Tifatul) menyampaikan bahwa untuk menikmati Islam perlu dua hal saja. Pertama paham atau mengerti bahwa Islam itu memang nikmat, banyak manfaatnya, gak bikin hati menjadi bete’. Seperti anak kecil saja yang tidak mengerti manfaat minum susu, maka ia akan terus memberontak untuk meminumnya. Padahal susu itu sangat bermanfaat bagi perkembangan tubuhnya. Coba kalau ia tahu, maka sehari bisa minum 5 gelas mungkin y… :d. Nah cara kedua untuk bisa menikmati Islam ialah ‘tidak sakit’. Sama halnya ketika kita akan menikmati satu makanan nan lezat, namun kondisi badan kita sedang tidak sehat, gigi sakit misalnya, maka tidak bisa kenikmatan itu terasakan. Begitupun dalam menikmati Islam. Kita akan bisa merasakan manisnya ajaran-ajaran Islam ketika hati, pikiran dan jiwa kita tidak sedang dalam keadaan ’sakit’. Maka dari itu upaya tazkiyatun nafs perlu terus menerus dilakukan, baik itu dengan ibadah-ibadah sunnah, sedekah, tilawah, shaum dan shalat sunnah, jika dilakukan secara konsisten, maka akan tersusun anti body dalam diri kita, sehingga menjadi tahan dengan serangan nafsu syahwat maupun syubhat.
Sampai disini, sudah ada gambaran untuk bisa menikmati Islam?
Masukan ini dipos pada September 20, 2008 2:41 am dan disimpan pada Ad Da'wah dengan kaitan (tags) Artikel, Buka bersama, Islam, Kajian, makna. Anda dapat mengikuti semua aliran respons RSS 2.0 dari masukan ini Anda dapat memberikan tanggapan, atau trackback dari situs anda.
September 20, 2008 pada 3:07 am
Saya sudah mendapatkan sedikit gambaran tentang menikmati islam. Namun tidak mampu mendiskripkannya apalagi mengaplikasikannya dalam keseharian saya. Atau mungkin pemahaman dan pengamalan agama saya yang sangat kurang?
September 20, 2008 pada 8:13 pm
Semoga kita selalu di karuniai nikmat islam dan selalu diberi kekuatan untuk dapat mensyukurinya.
September 23, 2008 pada 9:04 am
4 akh Unduk :Amin…. insyaAllah kita akan terus meningkatkan diri kita, kapasitas kita dari yang sudah muslim, menjadi mu’min, dan selanjutnya menjadi mukhlisin… pasti BISA! Asalkan ada usaha. OK? :d
Salam
September 23, 2008 pada 9:12 am
4 akh Karim : iya, gimana ya menjelasaknnya…? he, ane sendiri juga masih belum bisa begitu sekali menikmati Dien Islam ini. Tapi paling tidak dengan mengamalkan amal-amal ibadah yang diwajibkan, (seperti shalat berjama’ah, puasa, zakat, haji) maupun yang sunnah tambahan (seperti puasa sunnah, Qiyamul Lail, shodaqoh, dll) kita telah mendirikan ‘bangunan Islam’ itu sendiri. Dengan demikian, jika ‘bangunan’ itu dapat berdiri kokoh, ibarat kita membangun sebuah rumah, maka diperlukan berbagai material yang mana merupakan amal-amal kita. Nah, sejauh mana kualitas amal kita akan menentukan kualitas bangunan rumah Islam itu nantinya… Bisa kan? :d
Salam