Perjalanan kembali ke bumi Kalimantan ini terasa istimewa. Kenapa istimewa? Padahal tidak ada keluarga yang turut mengantar ke bandara. Hanya adik seorang saja. Tapi kenapa istimewa??
Ya, saya sendiri hanya bisa merasakan betapa beratnya ketika meninggalkan tanah kelahiran untuk waktu yang cukup lama. Satu tahun adalah waktu yang terbilang lama bagi saya. Karena jika sebelumnya berpisah dengan keluarga, paling lama 2-3 bulan saja. Tetapi saat ini dengan jarak yang terpisah oleh lautan (laut Jawa) serta rimba hutan belantara, menjadikan perjalanan ini seperti berat sekali rasanya.
Beruntung sekali jadwal penerbangan siang ini delayed. Lho piye to… Ya, gara-gara ditunda, jadinya masih ada waktu sekian lama untuk menghirup nafas udara Jogja yang hari itu lamayan panas dan terik. Tapi sempat ada rasa kecewa juga seh, lha kalau tahu misalnya jadwal di-delay harusnya tadi saya bisa sedikit agak lama bersilaturahim di tempat ibu kost yang lama. Tetapi karena tidak diberi tahu oleh pihak maskapai bahwa jadwal ditunda, jadi silaturahimnya hanya sebentar saja. Bahkan tidak sempat duduk-duduk atau ngobrol untuk sepatah-dua patah kata. Apa boleh buat… ![]()
Akhirnya waktu berangkat tiba juga. Dengan kondisi cuaca yang agak sedikit cerah-berawan, tadinya muncul rasa was-was juga kalau-kalau terjadi apa-apa. Tapi bersyukurlah, akhirnya bisa mendarat di Banjar-masin dengan selamat. Tiba pukul 4 sore, agak bingun juga mau ngapa+kemana. Kalau langsung pesan taxi ke Palangkaraya, sepertinya sia-sia juga. Gak keburu jam kantor. Sampai sana pasti sudah pada pulang semua. Banjarmasin-Palangka butuh waktu sekitar 4 jam. Jadi kalau dipaksa, sampai di sana sekitar pukul 8 malam – 1 jam (WITA) jadinya 7 malam WIB. Lagi pula ada permintaan dari teman kantor lainnya yang dari Atjeh, agar menunggu bliau bersama-sama berangkatnya ke Palangkaraya. Maka untuk mengisinya lebih baik coba mengontak beberapa teman saya yang tinggal di Banjarmasin dan sekitarnya.
Ada dua nomor handphone yang bisa saya hubungi. Satu adalah teman SMU saya yang dulu sempat menjadi Ketua MPA sekaligus menjabat sebagai Ketua ROHIS. Bliau ternyata masih berdomisili di Banjarmasin, karena memang dulu sempat memberi kabar akan meminang salah seorang gadis asli Kalimantan. Yah, syukurlah. Tapi coba saya kontak satu teman lagi, beliau juga rekan seperjuangan saya sewaktu masih di kampus. Bahkan kemarin dapat kabar, bliau dicoba dengan sakit pada bagian ginjalnya, sehingga memaksanya harus operasi ke RSCM, Jakarta. Yah, memikir dan menimbang jarak yang lebih dekat, akhirnya saya memilih mampir sementara ke tempat yang nomor dua, yang tinggal di Martapura.
Kota Martapura adalah kota kecamatan yang terkenal dengan perhiasan berlian nan indahnya. Ada bernama batu berlian kecubung, yakult, zamrud, mutiara, dan sebagainya. Wah, pengin ambil satu butir saja untuk seroang yang tercinta. Tapi, untuk siapa? :d
Selain terkenal sebagai kota berlian, Martapura juga terkenal dengan kota santrinya. Memang banyak terdapat pesantren dan ‘tempat pengajian’ yang oleh orang setempat diberi nama ‘langgar’. Saat shalat Isya tiba, saya diajak oleh teman saya itu menunaikan shalat di ‘langgar’ terbesar se-nusantara, yang dulu sering digunakan sebagai tempat mengkaji ilmu-ilmu agama yang dipandu oleh Tuan Guru Ijay. Dua tahun lalu kalau tidak salah bliau meninggal dunia. Tapi dampaknya luar biasa, masih terasakan hingga sekarang. Saat shalat berjamaah, ramai orang berjamaah. Tidak hanya itu, selesai shalat banyak juga yang mampir sebentar ke makam Tuan Guru yang berada di pojok utara langgar. Mereka membaca dzikir ataupun beberapa surat dari Alquran, seperti surat Yasin dan Al Waqiah. Namun tujuan utama mereka barangkali ialah untuk berdoa, agar keinginan mereka dikabulkan. Tapi bisa juga sebaliknya, mereka hanya ingin mendoakan almarhum Tuan Guru, agar tempat-nya dilapangkan, dsb. (Sayang sekali, karena tidak membawa kamera, jadi tidak bisa mendokumentasikan seperti apa langgar terbesar se-nusantara itu…)
Karena waktu yang tidak lama, akhirnya malam sehabis Isya sambil menunggu jemputan datang yang membawa teman dari Atjeh, saya gunakan untuk mengobrol ringan dan santai sambil ditemani dua gelas teh hangat. Salah satu obrolan yang menarik ialah mengenai adat dan tradisi orang Banjar keturunan Arab yang tidak mem-perbolehkan anak gadisnya dinikahi oleh orang setempat. Kata teman saya, “ini termasuk pengelompokan kasta, yang mana dalam Islam seharusnya tidak ada”. Tapi bagi saya menanggapinya “ah, itu si biasa saja lah”. Lha coba kita lihat keluarga kita sendiri, ketika anaknya menyampaikan keinginan untuk menikah, pasti yang ditanya pertama kali ialah asal dari keluarga calon mempelai dari mana. Kata orang Jawa, dilihat dulu bibit, bebet, dan bobotnya. Barangkali pameo ini tidak perlu ditanggapi terlalu serius sekali. Istilahnya, ketiga kriteria diatas hanyalah satu pesan yang harus diperhatikan sebelum memilih. “Patokan” utama tetap sebagai muslim ialah “kemusliman-kemuslimahan” dari calon yang akan kita pilih. Itu saja.
Selanjutnya, menjelang pukul 12 tiba, akhirnya jemputan datang juga. Maka perjalanan pun saya lanjutkan menembus dingin dan gelapnya malam, menelusuri hutan rawa-rawa, menuju Kota Cantik Palangkaraya. Semoga esok dapat merasakan kembali nikmat-’segar’nya udara nan bersih di kota perjuangan Bumi Tambun Bungai; Palangkaraya (2x).
Arsip untuk Oktober, 2008
Mampir Martapura
Posted in Perjalanan dengan kaitan (tags) Islam, Jalan-jalan, Kalimantan, Martapura, Tradisional on Oktober 20, 2008 by food4healthyKonsep Kaderisasi LDK JS UGM 1427 H
Posted in Manajemen dengan kaitan (tags) JS, Kaderisasi, Konsep, LDK, Manajemen, UGM on Oktober 16, 2008 by food4healthyDengan menyebut Asma’ Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, tiada patut pujian syukur itu kita panjatkan kepada selainNya Hanya atas limpahan rahmat dan karuniaNyalah, akhirnya Konsep Sistem Kaderisasi Jama’ah Shalahuddin yang selama ini masih tersebar, atau tidak jelas arah dan tujuannya, kini sudah bisa kita baca dan kita pahami, akan dibawa kemana proses kaderisasi Jama’ah Shalahuddin ini.Kemudian, tidak lupa pula kita sampaikan salam dan shalawat atas Nabi Muhammad saw, keluarga, sahabat, dan para penerus risalahnya hingga akhir zaman. Akhirnya, kami berharap dengan adanya konsep yang jelas ini, bisa membantu kita dalam mewujudkan apa yang kita cita-citakan; terwujudnya kejayaan Islam dengan sebab lahirnya pemuda-pemuda Islam yang berkomitmen tinggi dengan keislamannya.
Selengkapnya bisa di klik di …
Berlayar Menuju Pulau Seberang….
Posted in Perjalanan dengan kaitan (tags) Banjarmasin, FSLDKN XIII, Ke Kalimantan, Perjalanan, Samarinda on Oktober 16, 2008 by food4healthyPengantar : “Tulisan ini saya tulis sekitar 4 tahun yang lalu, saat kami serombongan hendak mengikuti Forum Silaturahim LDK Nasional ke XIII di Bumi Etam Samarinda. Moga bisa membuka kembali ingatan yang hampir terkubur oleh deru waktu dan zaman….”
Jam setengah dua malam, rombongan kami tiba di Terminal Surabaya. Setengah jam kemudian, kami dijemput oleh ikhwah JMMI ITS. Padahal rombongan kami berjumlah 17 orang; 9 ikhwan dan 8 akhwat. Belum lagi, tambahan dari rombongan Cirebon yang berjumlah 4 orang ikhwan. Wah, cukup merepotkan kelihatannya. Tapi untuk menolong saudara dan memuliakan tamu, seperti tak terlihat adanya keterpaksaan. Malah wajah-wajah sumringah yang terpancarkan.
Sesampainya di Masjid Manarul ‘Ilmi, kami langsung dijemput lagi dengan menggunakan bus besar yang menampung 80-an orang. Overload. Ternyata semua rombongan, mulai dari Padang sampai Mataram, sama-sama transit di Surabaya terlebih dahulu. Akibatnya, PJ pemberangkatan yang agak kerepotan.
Tepat shubuh, kami tiba di pelabuhan. Meski agak berdesak-desakan kami tetap sabar menunggu antrian agar bisa shubuh terlebih dahulu di sebuah mushola kecil dekat pelabuhan. Dan tepat jam 8, kapal yang kami tumpangi pun diberangkatkan. Tapi kepanikan tidak selesai disini. Setelah kami semua berada dalam kapal, ternyata seperti kelebihan penumpang, sehingga beberapa orang dari kami, mengalah tidak menerima bagian tempat yang nyaman. Padahal perjalanan membutuhkan waktu yang cukup panjang. Kurang lebih sehari semalam. Ditambah lagi, alunan ombak pada saat melewati tengah-tengah lautan, menyebabkan hampir semua penumpang mengalami mual-mual dan pusing. Yah, inilah ujian kesabaran.
Pagi setelah shubuh hari berikutnya, kapal yang kami tumpangi mendarat di pelabuhan Trisakti, Banjarmasin. Sengaja kami memilih hanya sampai Banjarmasin, karena kekhawatiran kami jika kapal sampai Balikpapan, maka banyak dari kami yang tidak tahan. So, perjalanan kami lanjutkan melalui jalan darat. Dan perlu tahu dahulu, jalan darat yang akan kami lewati juga sama saja. Karena hampir separoh lebih mengalami rusak berat. Tapi inilah nikmatnya.
Sambil menikmati kekayaan alam bumi Kalimantan, kami sempat melakukan ta’aruf dalam bus. Hasilnya, keakraban antar sesama kami pun segera terbentuk. Dan inilah yang menjadi kenikmatan lain, selain pemandangan menyejukan di sepanjang jalan. Ya, hampir tanpa berselang setiap satu kilometer, kami mendapatkan surau-surau yang kondisinya lebih baik daripada kondisi rumah-rumah penduduk. Juga warung-warung makan yang siap menyediakan makanan khas Kalimantan.
Hingga pagi hari berikutnya, kami sampai juga di Benua Etam Samarinda. Tepatnya di Pusdiklat Stadion Sempaja. Beberapa panitia dari PUSDIMA (Pusat Studi Islam Mahasiswa Universitas Mulawarman) langsung menyambut kami dengan senyum hangat. Juga dengan teh hangat. Lengkap dengan sarapan yang…ehm nikmat. Wajar saja, setelah dua hari lebih melalui perjalanan yang panjang dan cukup melelahkan.Kemudian, kami pun langsung melakukan registrasi dan pendaftaran ulang.
(Bersambung… )




