Berlayar Menuju Pulau Seberang….

Pengantar : “Tulisan ini saya tulis sekitar 4 tahun yang lalu, saat kami serombongan hendak mengikuti Forum Silaturahim LDK Nasional ke XIII di Bumi Etam Samarinda. Moga bisa membuka kembali ingatan yang hampir terkubur oleh deru waktu dan zaman….”

Jam setengah dua malam, rombongan kami tiba di Terminal Surabaya. Setengah jam kemudian, kami dijemput oleh ikhwah JMMI ITS. Padahal rombongan kami berjumlah 17 orang; 9 ikhwan dan 8 akhwat. Belum lagi, tambahan dari rombongan Cirebon yang berjumlah 4 orang ikhwan. Wah, cukup merepotkan kelihatannya. Tapi untuk menolong saudara dan memuliakan tamu, seperti tak terlihat adanya keterpaksaan. Malah wajah-wajah sumringah yang terpancarkan.

Sesampainya di Masjid Manarul ‘Ilmi, kami langsung dijemput lagi dengan menggunakan bus besar yang menampung 80-an orang. Overload. Ternyata semua rombongan, mulai dari Padang sampai Mataram, sama-sama transit di Surabaya terlebih dahulu. Akibatnya, PJ pemberangkatan yang agak kerepotan.

Tepat shubuh, kami tiba di pelabuhan. Meski agak berdesak-desakan kami tetap sabar menunggu antrian agar bisa shubuh terlebih dahulu di sebuah mushola kecil dekat pelabuhan. Dan tepat jam 8, kapal yang kami tumpangi pun diberangkatkan. Tapi kepanikan tidak selesai disini. Setelah kami semua berada dalam kapal, ternyata seperti kelebihan penumpang, sehingga beberapa orang dari kami, mengalah tidak menerima bagian tempat yang nyaman. Padahal perjalanan membutuhkan waktu yang cukup panjang. Kurang lebih sehari semalam. Ditambah lagi, alunan ombak pada saat melewati tengah-tengah lautan, menyebabkan hampir semua penumpang mengalami mual-mual dan pusing. Yah, inilah ujian kesabaran.

Pagi setelah shubuh hari berikutnya, kapal yang kami tumpangi mendarat di pelabuhan Trisakti, Banjarmasin. Sengaja kami memilih hanya sampai Banjarmasin, karena kekhawatiran kami jika kapal sampai Balikpapan, maka banyak dari kami yang tidak tahan. So, perjalanan kami lanjutkan melalui jalan darat. Dan perlu tahu dahulu, jalan darat yang akan kami lewati juga sama saja. Karena hampir separoh lebih mengalami rusak berat. Tapi inilah nikmatnya.

Sambil menikmati kekayaan alam bumi Kalimantan, kami sempat melakukan ta’aruf dalam bus. Hasilnya, keakraban antar sesama kami pun segera terbentuk. Dan inilah yang menjadi kenikmatan lain, selain pemandangan menyejukan di sepanjang jalan. Ya, hampir tanpa berselang setiap satu kilometer, kami mendapatkan surau-surau yang kondisinya lebih baik daripada kondisi rumah-rumah penduduk. Juga warung-warung makan yang siap menyediakan makanan khas Kalimantan.

Hingga pagi hari berikutnya, kami sampai juga di Benua Etam Samarinda. Tepatnya di Pusdiklat Stadion Sempaja. Beberapa panitia dari PUSDIMA (Pusat Studi Islam Mahasiswa Universitas Mulawarman) langsung menyambut kami dengan senyum hangat. Juga dengan teh hangat. Lengkap dengan sarapan yang…ehm nikmat. Wajar saja, setelah dua hari lebih melalui perjalanan yang panjang dan cukup melelahkan.Kemudian, kami pun langsung melakukan registrasi dan pendaftaran ulang.

(Bersambung… )

Tinggalkan Balasan