Mencermati perkembangan suhu perpolitikan akhir2 ini memang sptnya lumayan sudah mulai memanas… meski secara real nya cuaca malah berkebalikannya; MENDUNG.
Ok, menanggapi kontroversi iklan pks ditelevisi, (lagi-lagi saya musti cari jalan lain biar bisa menyaksikan iklan yang ckp menghebohkan itu…. coz ndak ada teve dirumah je…pake you tube!)
Jadi, mungkin nggak utuh yang apa yang ada dlm pemahaman ane.
Tapi secara sekilas, ane pribadi melihat ada manfaat-mudhorot dari iklan itu. Tinggal diEVALUASI banyak manfaat atau malah sebaliknya.. .???
Nah, karena nasi sudah menjadi bubur… maka baiknya memang dicari kekurangan dari ‘usaha’ sosialisasi lambang dan no partai itu, apa tepat sasaran dan sesuai target ataukah tidak??
Secara pribadi, saya melihat masih lebih banyak positif alias manfaat dari iklan itu.
1. PKS menjadi tidak asing lagi di mata masyarakat awam (anak muda-orang2 tua).
2. PKS membuka ruang dialog yang ‘lebih terbuka’ dengan kelompok umat muslim lainnya, NU dan Muhamadiyah.
3. PKS membuat image baru; partai terbuka, kreatif, dan tidak lagi ekslusif.
Persoalan gelar Soeharto menjadi pahlawan, saya kira itu menjadi wacana tersendiri dan membuka kedewasaan berpikir masy dalam menilai seorang pemimpin. –> mnjd perlajarn sngt berharga bagi calo2n pemimpin negeri ini di masa datang. Jadi apa yang dilontarkan oleh iklan PKS itu, masih sangat umum dan terlalu dini jika langsung menjustifikasinya PKS trmsk kroni2nya Soeharto.
Nah, tinggal persoalan dnegan NU dan Muhammadiyah, sptnya akan membuka ‘mata’ masyarakat, sbnrnya mana yang lebih bisa untuk bersikap lebih dewasa dan bijak dalam menyikapi setiap persoalan. Karena kasus ‘perebutan’ konstituen semacam ini sudah berulang kali terjadi, terutama di daerah Jogja dan Jateng saat Rmdhn tahun kemaren… Tapi alangkah lebih baik lagi jika persoalan ini ebrakahir dengan tertemukannya titik singgung dari 3 kelompok Islam terbesar di Indonesia itu….
Mudah2-an
Salam,
Umar
(masih terus belajar dan blajar lagi dalam menyikapi setiap konflik dan persoalan … hidup …)




