Akhirnya, diberi kesempatan juga olehNya melalui rekan kerja di kantor, untuk menularkan ilmu yang selama ini telah diperlajari di kampus kepada adek-adek mahasiswa DIII Farmasi UMP (Universitas Muhamadiyah Palangkaraya). Bukan tidak apa-apa, karena pada awalnya dulu tidak pernah terpikir dalam benak untuk menjadi seroang dosen, pengajar, apalagi guru. Mungkin pernah terpikir untuk menjadi dosen, tapi itu di universitas ternama dengan pertimbangan fasilitas yang dimiliki lebih lengkap tentunya. Namun mengingat kemampuan yang ada, keinginan itu segera dihapus dan diganti dengan planning-planning lainnya. Dan sekarang, ketika telah memasuki dunia kerja, baru bisa dipahami betapa memang sangat mulia bekerja atau berprofesi sebagai guru (pendidik). Apabila memang dengan niat yang ‘ikhlas’ yaitu untuk mencetak generasi baru yang cerdas, sehingga banyak memberikan manfaat bagi masyarakat, maka suatu aktifitas yang sangat mulia. Hari ini saya memulainya.
Dengan seorang rekan yang mirip-mirip sebagai seorang ‘profesor’ menjadikan persiapan yang saya lakukan tidak begitu repot. Cukup terbantukan dengan kemampuan ‘materi’ yang dimilikinya dipadukan dengan kemampuan yang ‘pas-pas-an’ yang saya miliki. Maka suasana kelas pun menjadi cukup hidup. Ya, mungkin karena ini masih di awal pertemuan, sehingga belum masuk ke materi intinya. Khawatir saya adalah kejadian sebagaimana dulu saya alami sebagai mahasiswa ialah merasakan kebosanan, ngantuk, ataupun tidak semangat dalam mengikuti kelas yang diajarkan. Salah satu penyebabnya ialah cara mengajar dosen yang sangat serius; tidak memberikan ‘ruang berpikir kreatif’ bagi siswa untuk mengeluarkan ide-ide dan pendapatnya.
Harapan saya, untuk pertemua-pertemuan selanjutnya juga tidak kalah serunya dengan pertemuan pertama ini. Target saya, terkait dengan infromasi yang selama ini saya terima, yaitu siswa-siswa yang malas belajar, dengan indikasi nilai yang rendah tidak terjadi dalam mata kuliah ini. Coba nanti dibuktikan saja.




