Arsip untuk Sastra kategori

SANG MUROBBI

Posted in Sastra dengan kaitan (tags) , , , , on Agustus 15, 2008 by food4healthy

Prolog:

Selayaknya bagi jiwa-jiwa yang mengazzamkan dirinya di jalan ini
Menjadikan dakwah sebagai laku utama
Dialah visi, dialah misi, dialah obsesi
Dialah yang menggelayuti di setiap desah nafas
Dialah yang akan mengantarkan jiwa-jiwa ini kepada ridho dan maghfiroh Tuhannya kelak

Ribuan langkah kau tapaki
Pelosok negri kau sambangi
Tanpa kenal lelah jemu
Sampaikan firman Tuhanmu

Terik matahari tak surutkan langkahmu
Deru hujan badai tak lunturkan azzammu
Ragakan terluka tak jerikan nyalimu
Fatamorgana dunia tak silaukan pandangmu

Semua makhluk bertasbih panjatkan ampun bagimu
Semua makhluk berdoa limpahkan rahmat atasmu

Terik matahari tak surutkan langkahmu
Deru hujan badai tak lunturkan azzammu
Ragakan terluka tak jerikan nyalimu
Fatamorgana dunia tak silaukan pandangmu

Duhai pewaris nabi duka fana tak berarti
Surga kekal abadi balasan ikhlas di hati

Cerah hati kami, kau semai nilai Rabb suci
Tegak panji Ilahi bangkit generasi Robbani

Ditulis dan dinyanyikan oleh tim nasyid Izzatul Islam

Hati yang Gamang…

Posted in Sastra dengan kaitan (tags) , , , , on Agustus 13, 2008 by food4healthy

hati yang gamang

hanya terdiam

di pojok perjalanan

tanpa tahu

diman arah

dimana tujuan

hati yang gamang

hanya terbungkam

tak dapat bicara

pun tulisan

hati yang gamang

hanya satu jalan;

ikhlas-kan hati

perbuatan

Pojok Kantor, 13 Augt 2008

SAYAP YANG TAK AKAN PERNAH PATAH

Posted in Sastra dengan kaitan (tags) , , , , on Agustus 12, 2008 by food4healthy

oleh : Anis Matta, Lc

Mari kita bicara tentang orang-orang yang patah hati. Atau kasihnya tak
sampai, atau cintanya tertolak.
Seperti sayap-sayap Gibran yang patah.
Atau kisah kasih Zainuddin dan Hayati yang kandas ketika kapal
Vanderwicjk tenggelam.
Atau cinta Qais dan Laila yang membuat mereka
‘majnun’, lalu mati.
Atau, jangan-jangan ini juga cerita tentang
cintamu sendiri, yang kandas ditempa takdir, atau layu tak berbalas.

Itu cerita cinta yang digali dari mata air air mata. Dunia tidak merah
jambu disana.
Hanya ada Qais yang telah majnun dan meratap di tengah
gurun kenestapaan sembari memanggil burung-burung.=
Oh burung, adakah yang mau meminjamkan sayap.
Aku ingin terbang menjemput sang kekasih hati.

Mari kita ikut berbelasungkawa untuk mereka. Mereka orang-orang baik
yang perlu dikasihani.
Atau, jika mereka adalah kamu sendiri, maka
terimalah ucapan belasungkawaku, dan belajarlah mengasihani dirimu
sendiri.
Di alam jiwa, sayap cinta itu sesungguhnya tak pernah patah. Kasih
selalu sampai disana.
“Apabila ada cinta dihati yang satu, pastilah ada
cinta di hati yang lain,” kata Rumi, “Sebab tangan yang satu tak kan
bisa bertepuk tanpa tangan yang lain”. Mungkin Rumi bercerita tentang
apa yang seharusnya. Sementara kita menyaksikan fakta lain.

Kalau cinta berawal dan berakhir karena Allah, maka cinta yang lain
hanya upaya menunjukkan cinta pada-Nya, pengejawantahan ibadah hati
yang paling hakiki yaitu : Selamanya memberi yang bisa kita berikan, selamanya
membahagiakan orang-orang yang kita cintai.
Dalam makna memberi itu
posisi kita sangat kuat. Kita tak perlu kecewa atau terhina dengan
penolakan, atau lemah atau melankolik saat kasih kandas karena
takdir-Nya. Sebab disini kita justru sedang melakukan sebuah “pekerjaan
jiwa” yang besar dan agung: mencintai.
Ketika kasih tak sampai, atau uluran tangan cinta tertolak, yang
sesungguhnya terjadi hanyalah “kesempatan memberi” yang lewat. Hanya
itu.
Setiap saat kesempatan semacam itu dapat terulang. Selama kita
memiliki cinta, memiliki “sesuatu” yang dapat kita berikan, maka
persoalan penolakan atau ketidaksampaian, jadi tidak relevan. Ini hanya
murni masalah waktu.

Para pecinta sejati selamanya hanya bertanya:
“Apakah yang akan kuberikan?” Tentang kepada “siapa” sesuatu itu
diberikan, itu menjadi sekunder.
Jadi tidak hanya patah atau hancur karena lemah. Kita lemah karena
posisi jiwa kita salah.
Seperti ini: kita mencintai seseorang, lalu
kita menggantungkan harapan kebahagiaan hidup dengan hidup bersamanya!
Maka ketika dia menolak untuk hidup bersama, itu lantas menjadi sumber
kesengsaraan. Kita menderita bukan karena kita mencintai. Tapi karena
kita menggantungkan sumber kebahagiaan kita pada kenyataan bahwa orang
lain mencintai kita.

“Wa annahuu Huwa adhhaka wa abkaa” QS. An-Najm : 43