Inilah satu pertanyaan paling pantas kiranya untuk dijadikan sebagai refleksi diri di Hari Raya Idul Adha tahun ini. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, yang mana selalu terjadi keributan ketika tiba Hari Raya Idul Fitri dikarenakan adanya perbedaan perhitungan, dipastikan Idul Adha kali ini tidak ada yang berbeda. Dengan berpatokan kapan saatnya wukuf di Arafah, Mekkah, maka seharusnya ummat Muslim di seluruh dunia bersepkat bulat untuk merayakan Idul Qurban sehari sesudahnya, ditambah tiga hari berikutnya (hari Tasyrik). Hal ini dikarenakan jika Idul Fitri berpatokan pada munculnya hilal, sedangkan Idul Adha patokannya adalah ibadah wukuf di Arafah, dikarenakan termasuk satu rangkaian dengan Ibdah Haji. Sampai disini, seharusnya sudah tidak ada persoalan.
Yang menjadi persoalan berikutnya ialah bagaimana kita menjalankan ibadah Qurban? Istilah qurban sebenarnya berasal dari kata Qarb : dekat, Taqarrub : mendekat. Jadi esensi dari qurban ialah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Persitiwa qurban termasuk satu peristiwa paling awal terjadi dalam peradaban manusia. Dimulai dari kisah qurban-nya Habil dan Qabil, dimana Habil yang mempersembahkan hewan ternak diterima qurban nya oleh Allah, sebaliknya Qabil yang membersembahkan hasil-hasil bumi tidak diterima oleh-Nya. Diterima/tidaknya disini, bukan berarti berdasarkan jenis apa yang dikurbankan. Akan tetapi niat yang tulus, ikhlas, tanpa pamrih itulah yang menjadi dasar penerimaan. Sebagaimana diteladankan oleh Khalilullah; Ibrahim as yang bersedia tanpa rasa ragu dan khawatir untuk mempersembahkan anak kesayangannya Ismail as, namun dengan Iradahnya diganti lah Ismail as itu dengan hewan domba. Inilah satu permulaan ibadah atau proses qurban.
Dikemudian hari, oleh Rasulullah juga dilanjutkan, yaitu ketika sudah berada di Madinah, hampir tanpa jeda tiap tahun Rasul melakukan qurban dua ekor domba.
Saat ini pilihan hewan untuk berkurban tidak hanya domba, tetapi binatang ternak lain juga diperbolehkan seperti sapi, unta, dan kerbau. Empat jenis hewan ternak inilah yang diperbolehkan untuk ibadah qurban. Barangkalai ada hikmah tersendiri dengan keempat jenis hewan ini. Selanjutnya,, agar ibadah qurban itu otpimal, hewan yang akan diqurbankan harus memenuhi syarat-syarat, sbb :
1. Berupa hewan ternak, seperti kambing, domba, sapi, kerbau, dan unta.
2. Telah sampai umurnya, semila kambing 6 bulan, sapi 2 tahun, dan unta 5 th (atau ditandai dengan tanggalnya gigi geraham).
3. Terbebas dari cacat dan penyakit.
Untuk jenis kelamin, tidak ditentukan apakah harus jantan atau boleh betina. Yang penting hewan itu sehat dan telah cukup umurnya.
Dalam tata cara menyembelih hewan qurban, barangkali telah dijelaskan oleh para ahli, bahwa menyembelih dengan cara tradisional, yaitu dengan pisau tajam merupakan cara terbaik untuk menghasilkan daging yang sehat, lunak seratnya, dan tidak ‘alot’.
Apabila dibandingkan dengan penyembelihan melalui setrum listrik, atau disuntuk terlebih dahulu agar lemah, malah mengakibatkan hewan menjadi stress. Akibatnya darah yang keluar pada saat disembelih menjadi terganggu (tidak lancar) yang berdampak pada struktur/tekstur daging itu sendiri. Itulah karunia Allah yang sangat besar nilainya. Jangan lupa, ketika akan menyembelih mengucap… kalimat yang baik, yaitu Bismillah…. Allahu Akbar!… InsyaAllah akan menjadi barakah bagi semua, apa yang telah diniatkan untu kbertaqarub kepada Nya.
Adapun untuk pembagian daging kurban, dibagi tiga macam, yaitu 1/3 untuk dikonsumsi si pemilik/pekurban, 1/3 berikutnya dibagikan/disesedakhkan kepada fakir miskin, dan 1/3 lainnya dapat dihadiahkan untuk karib kerabat. Yang pasti semua bagian tidak boleh dijual lagi oleh pemilik. Entah berikutnya setelah kulit-nya misalnya itu dihadiahkan akan dijual oleh yang diberi hadiah, itu persoalan lain lagi. Yang pasti pembagiannya secara umum seperti itu.
Nah, barangkali itu hal-hal yang berkaitan dengan ibadah qurban. Dengan ini, menunjukan bahwa Islam lebih manusiawi daripada tradisi lainnya yang ada dimasyarakat saat ini, yang cenderung menghambur-hamburkan harta yang seharusnya bermanfaat bagi yang membutuhkan. Alih-alih sebagai perwujudan rasa syukur dan permohonan, malah sebaliknya menjadi ajang penghamburan dan harta kepada yang tidak membutuhkan.
Arsip untuk Tak Berkategori kategori
Sebaik apa kita BerQurban?
Posted in Tak Berkategori, Tsaqofah dengan kaitan (tags) ibadah, Idul Adha, makna, Qurban on Desember 5, 2008 by food4healthyLive on Radio Tarbiyah Jepang
Posted in Tak Berkategori dengan kaitan (tags) muslim, radio on September 12, 2008 by food4healthyHmm, seperti dalam mimpi saja. Meski hanya bisa mendnegar lewat jarak jauh.. tapi tetap saja bisa terasakan ruh ukhuwah denga saudara2 muslim di belahan bumi lainnya….
http://www.radiotarbiyah.net/ar/misc.php?action=showpopups&type=online
Ikhlas dalam Perjuangan
Posted in Tak Berkategori dengan kaitan (tags) Keikhlasan, meluruskan, niat, perjuangan on September 8, 2008 by food4healthyAstaghfirullah, pagi ini lumayan telat saya mengikuti kajian rutin Kitab RS. Tapi tidak mengapa, sepertinya materi yang disampaikan belum begitu banyak yang terlewat. Agakkaget juga ketika baru duduk dibarisan nomor dua, tiba-tiba Ustadz Am berkata :”Syurga itu dibawah kilatan pedang!”.
Hm.. serem juga neh sepertinya mendengar kalimat itu. Apalagi setelah tujuh tahun ini distigmatisasi oleh Barat dengan istilah terorisme dan radikalisme. Cukup berpengaruh juga istilah-istilah itu dengan pengertian jihad yang sebenarnya dalam Islam. Memang benar bahwa sebagian besar perjuangan Rasulullah selalu terdapat perang didalamnya. Begitupun dalam perjuangan kekhalifahan selanjutnya. Maka identifikasi oleh Barat terhadap Islam menyamakan Islam dengan kekerasan, pertumpahan darah, dsb. Apakah memang benar demikian halnya?
Untuk menjawabnya bisa kita rujuk kembali kepada ayat-ayat dalam Al Qur’an yang menunjukan diperbolehkannya berperang. Salah satunya ialah dalam QS Al Hajj : 39 “Diijinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka dizalimi. Dan sungguh, Allah Mahakuasa menolong mereka itu.” Dari jelas sekali bahwa pada mulanya peperangan sebenarnya dilarang dalam Islam. Namun ketika kenyataan berkata lain, dimana banyak kaum muslimin yang didzalimi, maka setelah usaha diplomasi itu gagal, peperangan adalah jalan yang paling ksatria.
Sayangnya, dibolehkannya berperang inipun belum tentu menjadi jalan terbaik bagi seseorang yang niatnya masih menyimpang. Meski jihad menjadi salah satu dari 3 amal ibadah yang paling tinggi nilainya, namun dalam melaksanakannya diperlukan niat yang benar-benar lurus terlebih dahulu. Tidak bisa niat berperang agar disebut sebagai pahlawan, syuhada, ksatria, atapun gelar-gelar lainnya. Bahkan sedapat mungkin diupayakan agar kemenangan itulah yang dicapai. Bukan kesyahidan. Meski ia adalah cita-cita yang tertinggi. Seperti dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: “Barang siapa memohon kesyahidan kepada Allah dengan benar, Allah akan membuatnya sampai pada derajat ke-syahidan, meskipun ia mati di atas tempat tidurnya” (an-Nawawi, 2005:245).
Begitulah Islam mengajarkan perjuangan yang harus dilandasi dengan niat yang benar. Niat yang ikhlas, hanya ditujukan untuk mendapatkan keridhoan Allah swt. Apapun perjuangan yang saat ini sedang kita jalani, yang pasti dibenahi terlebih dahulu ialah niatnya. Kita belajar harus ikhlas. Kita bekerja juga harus dengan ikhlas. Semua harus dengan niat yang ikhlas.




